Sampai saat ini ekonomi dunia sedang mengalami perlambatan luar biasa. Ekonomi Amerika yang melambat akibat krisis SPM (Subprime Mortgage) terus menghantui dan memaksa Amerika mengencangkan ikat pinggangnya. Walaupun suku bunga the Fed sudah dipotong sampai ke level 3%, tapi ancaman bahwa krisis ini akan berlangsung permanen cukup meyakinkan. Turunnya bunga the Fed bisa memperlebar margin suku bunga dalam negeri dan suku bunga the Fed, sehingga dalam jangka pendek tentunya para pelaku gapping (meminjam uang asing dari luar negeri dengan bunga rendah dan menanamkannya di Indonesia dengan bunga tinggi) akan melakukan apa yang disebut dengan capital inflow, mereka akan membanjiri financial sector dengan jumlah dollar yang tidak sedikit, dan tentunya dollar harus ditukar dengan rupiah maka dari itu dalam beberapa hari ini atau mungkin minggu ini akan terjadi apresiasi rupiah yang mendekati angka Rp.9100/USD.
ORI 004 akan cukup menarik bagi investor mengingat BI belum menurunkan suku bunganya. Dengan suku bunga 9-11% dan tingkat tingkat inflasi yang tinggi, saya rasa BI belum berinisiatif untuk menurunkan BI rate. Namun investor harus memperhitungkan juga uang yang tertanam di ORI benar-benar tidak terpakai untuk konsumsi. Ingat bahwa inflasi masih akan tinggi.
Sektor properti masih sangat bagus sebagai saluran investasi alternatif. Pemilihan lokasi properti akan sangat menentukan return para investor, carilah daerah penyangga ibukota seperti Bogor, bekasi, atau Tangerang. Rumah ukuran sedang cenderung lebih diminati, karena banyak keluarga muda yang masih mencari kontrakan atau mungkin rumah baru. Saya rasa mengkontrakkan jauh lebih bermanfaat untuk para investor yang tidak terlalu butuh uang dalam jangka pendek.
Bila Anda ingin melakukan bisnis secara riil maka coba perhitungkan matang-matang cost of production dan inflasi serta daya beli masyarakat. Jujur saja, saat ini agak sulit menggiring masyarakat untuk menaikkan konsumsinya. Himpunlah dana terlebih dahulu dan buatlah perhitungannya.
Saham-saham yang masih cukup menarik yakni saham-saham pertambangan, walaupun pada dasarnya pasar masih sangat volatile pada shock-shock yang terjadi belakangan ini. Sebisa mungkin menghindari saham-saham perusahaan yang menjual komoditas ke Amerika, atau yang barangnya mempunyai subsitusi dekat dengan barang-barang China.
Untuk mereka yang mau beli elektronik atau barang-barang import sebaiknya menunggu sampai akhir pekan atau pekan depan. Carilah ceruk terdalam pada apresiasi karena pada dasarnya importir mengambil nilai tukar dollar dengan hitungan pahit.
Selamat beraktivitas ekonomi…